Aku tak pernah menghiraukan, mungkin mereka bilang aku tak
pantas sebagai seorang aktivis atau mungkin aku tak layak untuk terlihat sibuk.
Di ruangan sebesar 3x3 m, aku hanya bersandar pada tembok yang mungkin catnya
luntur dan persis dihadapanku pemandangan yang cukup mengenaskan, kertas-kertas
yang tertumpuk tidak rapih, itu semua file-file penting yang tidak terurus. Dan
akhirnya itu akan menjadi pekerjaanku, mereka bilang aku memang bertugas
mengurusi file-file. Tapi untuk sekarang, aku tidak peduli, aku hanya
memfokuskan diri untuk orang yang sedang berbicara, yaitu ketua ekstrakulikuler
Pecinta alam SMA Nusantara.
Ya,
anak culun seperti aku dengan kacamata besar dan tebal yang menghalangi
lentiknya bulumata, serta gigi yang terpaksa harus dipagar, karena sama sekali
tidak rapih. Ditambah gaya rambut yang tidak pernah aku ganti, kepang satu. Itu
karena aku tak sempat berpikir untuk merubah bekas kepang sebelum berangkat
sekolah. Juga bentuk tubuhku yang tidak terlihat proporsional.Tapi dengan semua
ini aku tak pernah peduli, buktinya aku masih bisa menjabat sebagai seorang
sekretaris di pecinta alam, akupun masih bisa selalu mendapat pujian dari guru
B.inggris, karena nilai UH ku yang selalu hampir sempurna. Aku dengan
kekurangan dan kelebihanku, aku tak peduli orang lain.
“Din, di proker tahunan, pendakian selanjutnya
sekitar bulan apa?” tanya Bagus yang ternyata menyadari aku mulai melamun
“Eh..eeh itu Gus, bulan
Desember, sekitar akhir atau pertengahan.” Jawabku sambil membuka-buka proker
ditangan.
“oke teman-teman, akhir Desember
kemungkinan akan ada libur akhir tahun, bagaimana kalau pendakian kita
laksanakan bersamaan dengan liburan?” ucap Bagus, sambil memperhatikan
kalender.
Tak
ada jawaban serentak, pertama karena memang tidak banyak yang ikut rapat dan
yang kedua sepertinya mereka semua keberatan liburan akhir tahun mereka harus
direlakan, termasuk aku.
“ aku usul, bagaimana kalau kita
gunakan hari-hari setelah test semester saja? Sepertinya liburan akhir tahun
kurang tepat Gus” Intan menambahkan
Intan
berhasil buat kami lega dengan saran tadi, Bagus jarang menolak saran Intan.
Entah karena Intan selalu punya solusi tepat atau ada alasan lain. Ahh... aku
tak peduli. Bagus kembali memperhatikan kalender, aku hanya berusaha menebak
raut wajahnya, tentunya untuk menunggu kepastian, dengan alasan aku akan sangat
lega apabila saran Intan diterima atau karena aku ingin cepat membuat
kesimpulan di notulen, mungkin keduanya.
“sepertinya ini lebih baik,
hmm... akupun sebenarnya punya acara lain di akhir tahun” Bagus memandangi
kami, tersenyum dan mulai sedikit melawak. Sejenak, semua masih terdiam
“tak hanya kamu yang punya acara
Gus” kami saling pandang
“hahaha” kami semua menyadari,
sebenarnya tak ada yang setuju dengan pilihan pertama.
“ohh. Kalau begitu biarkan acara
akhir tahun berjalan sesuai rencana, hahaha. Ada yang punya usul untuk tanggal
pendakian?”Bagus kembali bertanya
Herannya
semua langsung terdiam, seolah-olah kami membiarkan Bagus yang menyelesaikan
ini. Padahal sarannya yang pertama pun tidak kami setujui.
“oke lah, semoga saranku kali
ini lebih baik. Tgl 8 Desember kita mulai test, kemungkinan tanggal 18 kita
sudah selesai, Minggu selanjutnya untuk classmeeting dan persiapan pembagian
raport, bagaimana kalau tanggal 27 dan 28 Desember. Hari jum’at dan sabtu?”
Bagus memasang muka serius, yang menurutku tetap saja lucu.
Aku
tak perlu menunggu jawaban dari teman-teman, aku yakin semua akan setuju dan
semuanya sudah aku tulis sebagai kesimpulan notulen.
“sebentar Gus, tangaal 27 dan 28
kita sudah mulai libur, kita pakai hari-hari mendekati pembagian raport saja,
di hari minggu dan senin. Tanggal 22 dan 23 Desember. bagaimana?”
Dan,
ternyata aku salah, Irfan sudah mulai bicara. Dia anak perfectly kedua setelah
Intan, mungkin mereka jodoh. Ahh... tak urusan.
Sedikit kesal memang harus mengganti ulang halaman notulen, tapi apa
boleh buat sepertinya teman-teman lebih setuju dengan saran Irfan.
“Irfan, buat ku ribet !” gumamku
kesal
“iya benar tuh Gus, itu waktu
yang tepat.” Intan memambahkan
Okelah,
Intanpun sudah berbicara, aku tak punya lagi pegangan untuk memepertahankan
halaman notulen ini.
“dan kepastian diambil.
Pendakian tanggal 22 dan 23 Desember” ucapku sembari menutup notulen hari ini
tanggal 28 November 2013.
***
Mendekati
hari pendakian banyak yang harus aku kerjakan. Membuat proposal, surat
pemberitahuan, permohonan izin, undangan, sampai daftar anak-anak yang akan
ikut pendakian . jelas, itu semua tidak bisa aku lakukan hanya dalam waktu 1
minggu. Tapi, aku juga tak mungkin menyibukkan diri ditengah test semester.
Paling tidak aku harus menyelesaikan proposal terlebih dulu.
“Din, ??!” teriak Intan dari
koridor atas
Aku yang baru saja dari kantin
langsung menoleh kearah Intan “ iyaa. Ntan? Ada apa?”
“cepat ke atas, aku mau ngomong”
“ya tunggu, aku kesitu Ntan” aku
segera menaiki tangga, jarang sekali aku ke koridor atas, memang tak pernah
punya urusan ditempat ini. Setelah sampai dikoridor aku langsung berbelok ke
kiri dan melihat Intan bersama Irfan. Yah... diantara 2 orang idealis memang
cukup sulit, tapi aku tak peduli.
“ada apa Ntan?” sapaku sambil
duduk diantara mereka
“kamu hari ini bawa proposal
pendakian? Nanti aku sama Irfan temenin kamu ke kepsek buat ngajuin
proposal” tanya Intan
“astaga! Intan !!” aku berteriak
“kenapa? Kamu gak bawa
proposalnya?”tanya Irfan
“iya, gimana ya?” aku juga gak
bawa flashdisk yang ada soft copy proposal” aku mulai panik
“sebentar, waktu kemarin di
ruang PA. Kayanya kamu sempet pake flashdisknya Irfan ya?” Intan yang tidak
kalah paniknya mulai mencari solusi.
“iya.. iya benar. Kamu bawa
flashdisknya gak fan?”tanyaku mulai gugup
“Bawa sih, tapi aku lupa
proposalnya disimpen dimana.” Irfan langsung mengeluarkan flashdisknya dari
saku.
Tanpa
pikir panjang aku langsung mengambil flashdisk itu dari tangan Irfan dan
langsung menuju koperasi.
“dodol banget sih kamu Din,
besok udah test kamu belum ngajuin proposal lebih-lebih proposal itu belum kamu
print! OON!!” umpat aku dalam hati
Untung
aja, koperasi lagi sepi dibalik kesulitan
selalu ada kemudahan, aku berusaha menghibur diri. Tapi di balik itu semua
tidak ada kemudahan selanjutnya, di flashdisk Irfan terlalu banyak folder,
dengan terpaksa aku harus mencari proposal di berbagai kemungkinan. Dan
ditengah pencarianku, dan entah kemungkinan yang keberapa aku menemukan satu
buah folder dengan salah satu filenya adalah sebuah tulisan grafity, dan
tulisan itu adalah sebuah nama”hardini laras” ya, itu namakau.
“benarkan ini namaku?” aku
terheran heran sendiri
Dan
aku kembali teringat dengan nansib
proposal. Kali ini rasa panikku mengalahkan rasa penasaranku. Aku langsung
menutup folder tadi dan kembali mencari softcopy proposal. dan ternyata
proposal itu tidak terlalu jauh dari folder tadi.
“akhirnya, proposal udah
ditangan” aku memandangi proposal yang sudah selesai aku jilid
“kok lama Din...?” tiba-tiba
Irfan udah ada dibelakangku
“eehh.. iya. Foldermu kebanyakan
sih, jadi tadi aku harus cari-cari dulu” aku yang teringat tentang folder tadi
jadi merasa aneh untuk menjawab pertanyaan Irfan. Banyak pertanyaan yang muncul
diotakku, tapi aku gak berani buat mempertanyakannya pada Irfan.
“ Din, ayo. Kita ke kepsek” ajak
Intan tidak sabar
“ya, ayo ayo.”aku menggandeng
Intan sambil memegang proposal ditangan
Suasana
disekolah ramai dengan anak-anak yang kluyuran, tapi sepi dari sosok guru.
Sekarang semua guru sedang mengikuti rapat, dan kebanykan kelas kosong. Makanya
aku punya banyak waktu untuk berada di luar kelas, termasuk untuk mengajukan
proposal. Dan sekarang aku benar-benar teringat . kepala sekolah gak mungkin
ada di ruangan!
“eeits! Bentar. Semua guru kan lagi pada rapat, dan
gak mungkin kepala sekolah ada di ruangannya, trus kita mau ketemu sama
dispenser di ruang kepsek gitu?” aku memberhentikan Irfan dan Intan
“hahaha, korban kepanikan nih,
itu tuh irfan pengen liat monitor CCTV kali. Mau liatin gebetan “ ledek Intan
sambil melirik Irfan
“apaan sih Ntan, “ Ifan berusaha
staycool, walau dengan muka yang maikn merah
“ hehe, Irfan Irfan. Ya udah
duduk di depan MM aja yuh, sambili mempelajari proposal, siapa tau ada yang
salah” ajak aku sambil menunjuk tempat duduk yang kosong.
Mereka
berdua langsung mengikutiku tanpa ada penolakan, di menit pertama masih biasa
saja berada diantara mereka, 5 menit berlanjut. Perasaaan minderpun muncul. Itu
juga karena pandangan teman-teman ke kami bertiga yang kebanyakan bisa ditebak,
ngapain anak culun sepertiku gabung sama 2 orang itu, ngerendahin diri sendiri
aja! Mungkin itu yang mereka pikir. Ya, aku memamng menyadari, aku terlalu berbeda
dengan mereka berdua, tapi aku masih belum perduli dengan semuanya.
“Ntan, menurutmu tujuan
diproposal ini sesuai gak?” tanyaku mengisi kekosongan
“coba tanya Irfan, Din. Dia
lebih tau kayanya”jawab Intan
“ohh.hm Fan, ini gimana
menurutmu?” aku menyodorkan proposal ke Irfan
“ sebentar, “ Irfan langsung
mengambil proposal ditanganku dan membicarakan semuanya dengan Intan
Entah,
apa yang mereka bicarakan, sebenernya sesuai atau tidak dengan apa yang aku
tanyakan. Disini, aku mulai merasa di acuhkan.
“huuhh !!” aku mulai kesal
Ditengah
kekesalanku, ada beberapa adik kelas yang terus memperhatikan kami bertiga,
tersenyum senyum dan saling berbisik. Tepat didepan kami mereka berhenti
“ ka jangan ganggu orang
pacaran, pemandangannnya jadi gak enak !” ucap salah satu dari mereka. Seolah –
olah mereka terganggu karena film yang ditontonnya berfiguran sangat jelek.
“ kalian gak punya hati banget
ya? Aku memamng jelek, tapi aku masih pantas punya kesibukan yang sama dengan
orang-orang seperti mereka! “ aku berdiri sambil, meninggalkan mereka semua.
Sungguh,
kata-kata tadi buat aku benar-benar menjadi seekor semut kecil yang siap untuk
di tindas. Aku berlari, meninggalkan mereka, aku tidak memeperdulikan Intan dan
Irfan lagi. Aku tidak mau berada di dekat mereka, agar oarang lain puas tidak
terganggu dengan ketidakpantasanku. Aku berhenti di taman belakang, duduk dan
mulai menangis
“aku tahu aku jelek, aku culun.
Tapi aku juga punya hati, dan hatiku tidak culun. Aku tahu mana yang pujian dan
mana yang hinaan. Dan aku tau mana yang baik dan mana yang tidah baik,”
“aku cewek yang penuh dengan
kekurangan, aku memamng gak pantes bersanding dengan orang-orang perfectly. Apapun
alasannya.” Aku menangis sejadi-jadinya. Membenamkan semua wajahku di telapak
tangan.
***
Hari ini aku disibukkan untuk menyiapkan
perlengkapan pendakian, dari jaket,sleepingbed, matras, mantel, kompas dll.
Tidak semua aku punya, ada beberapa barang yang harus aku pinjam. Tapi tepat
jam 11.00 semua sudah lengkap. Jam keberangkatan tertulis pukul 14.00. dan aku
akan kembali kesekolah sekitar pukul 13.30
“ aku bisa tanpa orang orang
seperti mereka !” aku kembali teringat kejadian waktu itu,
Pukul
14.00 semua seudah berkumpul, dan siap menaikkan barang-barang ke atas truk.
“ perlu bantuan Din?” tanya
Irfan bersiap mengambil ranselku
“gak fan, makasih” aku langsung menaikkan ranselku
sendiri ke atas truk, dan langsung meninggalkan Irfan
Semua
anak-anak menaiki truk, setelah melaksankan pendataan dan berdoa bersama. Aku
lebih memlih menaiki truk paling terakhir dari pada harus berlama-lama
berhadapan dengan Irfan. Aku heran, bukan hanya Irfan yang seharusnya aku
hindari, tapi kenyataannnya aku lebih benci dia. Pemandangan selama perjalanan
cukup buat aku melupakan sejenak masalahku selama ini. Hamparan sawah yang
membentang luas dengan pemandanagan langit yang biru ditambah samar-samar pucuk
gunung semeru. Kami berhenti di pos pertama. Semua ada 5 pos, dan ini awal dari
perjalanan yang kita tunggu-tunggu.
Kita
memilih rute baru dengan, melewati hamparan padang lavender yang indah berwarna
ungu, kita harus melewati hektaran padang lavender yang mempesona. Menaiki
puncak gunung semeru dan terbalaskan dengan keindahan rute yang kita pilih ini.
“ Din,?” panggil Irfan mencoba
menahanku
“ apa?” jawabku santai
“ kamu masih marah sama aku?”
“marah untuk apa? Sudahlah,
fokus untuk pucuk semeru. Tak usah bicarakan yang lain” aku langsung berlalu
meninggalkan Irfan
Kita
sudah berda di pos 4 saat hari sudah mulai petang, dan kami semua memutuskan
untuk berhenti dipos ini. Kami semua sudah memasang bivak untuk kami berteduh.
Setelah itu kami mencari perlengkapan untuk bermalam lebihh tepatnya kami
mencari kayu bakar untuk membuat api unggun. Api unggun dimalam pendakian, itu
sudah tradisi kami.
“siapa yang bawa gitar?” Bagus
mulai beraksi
“ aku Gus, itu aku taruh di pos”
sony menunjuk pos
“biarkan aku yang bermain gitar
Gus,” Irfan meminta gitar dari tangan Bagus
“ ambil sendiri dong, udah
diambil aja mau luh !”
Bintang
malam katakan padanya
Aku
ingin melukis sinarmu dihatinya
Embun
pagi katakan padanya
Biar
ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
“ahh, galau lagunya!” sony,
mulai mengambil alih
Masih
kuingat selalu saat kau berjanji padaku
takkan pernah ada cinta yang lainnya
tersasa begitu indah
aku yang sudah mulai bosan, lebih memilih
sendiri. Melihat bintang yang bertebaran. Ya, aku suka bintang. Aku suka karena
bintang punya sinarnya sendiri. Bintang sebenranya selalu bersinar, tapi saat
siang cahayanya tak mampu mengalahkan sang surya, tp saat malam, tak ada yang
bisa mengalahkan indahnya bintang. Jadi, seredup apapun bintang dia tetap
mempunyai cahaya, bahakn ada bintang yang paling terang itu karena ada bintang
yang lebih redup.
“ kamu lihat bintang itu din,
dia begitu terang, tapi aku lebih suka yang itu, yang kebih redup” Irfan menunjuk salah satu bintang
“sejak kapan kamu disini fan?”
tanyaku yang kaget dengan kedatangan Irfan
“sejak kamu memisahkan diri dari
kami. “
“ trus untuk apa kamu disini?”
“ aku ingin melihat bintang,”
“ disanapun kamu bisa melihat
bintang, kamu tak perlu kemari”
“ biarkan aku menjelaskan satu
hal, Din” Irfan mulai memohon
“okeh, bicaralah. Akan aku
dengarkan”
“ maafkan, bintang yang terang
itu, dia punya maksud lain buat bintang yang lebih redup. Dia bukan merendahkan
bintang itu, tapi bintang yang terang sesungguhnya ingin berbagi sinarnya.”
“ apa maksudmu?”
“ aku memang sengaja, buat kaum
minder Din, tapi tujuanku agar kamu tau. Kamu pantas sepertiku. Aku ingin kamu
termotivasi. Tapi ternyata, kamu salah menangkap ini semua.”
“lalu, untuk apa kamu peduliin
aku?”
“ kamu bisa pikir sendiri, Din,
aku berpesan sama kamu. Temani bintang yang lain, karena bintang yang paling
terang akan pergi. Buat bintang yang paling redup itu menjadi yang paling terang” tunjuk Irfan pada salah satu
bintang
“ aku sayang kamu” Irfan lansung
pergi meninggalkanku yang masih terdiam
Aku masih belum bisa menyimpulkan semuanya,
tiba-tiba dia berbicara seperti itu. Aku bingung apa yang harus aku katakan.
“ bintang, tetap temani aku
disini, bisikkan apa maksudnya” mukaku menengadah kelangit
***
Malam pendakian yang cukup membingungkan.
Setelah malam itu Irfan selalu menghindar, sebenarnya banyak hal yang ingin aku
bicarakan ulang. Ahh, tapi aku simpulkan saja, Irfan semalam hanya bermimpi,
dia tidak sadar dengan apa yang dia bicarakan. Semoga saja, karena aku tak mau
terlalu bingung memikirkan apakah semalam nyata atau tidak. Rasa capek setelah
pendakian masih aku rasakan, walau aku sekarang sudah berada di kamar kesayangkanu.
KRING KRIINGG
“hallo?” sapaku diujung telpon
“ din? Ini Intan. Aku mau
ngabarin, “
“ ngabarin apa?”
“Irfan Din, diperjalanan pulang
dia mengalami kecelakaan. Tolong kamu datang ke rumah sakit sekarang “
“haa? Kamu gak bercanda Ntan?”
aku yang masih terkaget sekaligus bingung, hanya mampu bangkit dari tempat
tidur dan mengenang malam pendakian
Dan tidak terasa air mata menetes ke pipiku.
“Irfan ! “ aku menangis mengingat apa yang Irfan katakan. aku yakin kamu pantas
jadi bintang paling terang di hatiku Fan. Aku langsung mengambil tas kecilku
dan menuju rumah sakit.
“Intan, Irfan dimana?” aku
langsung menemui Intan di koridor rumah sakit
“ dia udah gak ada Din, dia udah
dibawa ke ruangan itu” Intan menunjuk sebuah ruangan
Kakiku
langsung terasa lemas, aku tidak mampu berdiri dan menopang badanku sendiri.
“ kamu pasti sudah tau din, dia
sebenernya sayang sama kamu. Dia ingin kamu merasa terang seperti bintang ini”
Intan memeberikan glowing berbentuk bintang.
Aku langsung mengambil glowing bintang itu.
Dan menangis di pelukan Intan,
“ aku memang telat untuk
menyadari semuanya Ntan,”
TAMAT