Selasa, 11 Maret 2014

Umpatan

Hai ! lihat aku
Kamu bohong jika bilang aku tak terlihat

Sekarang tatap aku !
Kamu bohong jika tidak tahu arti tatapanku

Dekatilah aku !
Kamu pintar berbohong,jika
Tak bisa melangkah ke arahku

Dengar !
Kamu memang sangat berbakat untuk berbohong
Jika kamu tak mendengar apapun.

Apa aku harus melontar?!
Apa perlu aku berteriak ?!
Atau aku lempar saja batu kearahmu,
Supaya kamu tak lagi tuli dan bodoh.

Aku lupa
Kamu tak pernah pintar,
Berarti kamu tak pernah bodoh
Atau kamu pintar tapi berpura-pura
Bodoh

Sepertinya sekarang aku yang akan berpura-pura
Pintar untuk semua kebodohan.

Senin, 10 Maret 2014

Tak apa



Memang ini caraku, Setiap katamu tak pernah hilang, setiap peristiwa selalu termemori. Ya memang berlebihan, tapi itu caraku.  Sepertinya  kamu memang bukan untukku. Kamu tak punya satu cara yang sama. Kamu tak punya penafsiran yang sama.
Tapi, apa memang caramu seperti itu? Harus seperti itu?! Aku tak pernah melarangmu tak berucap didepanku, walau yang aku inginkan sebaliknya. Tapi kalau kamu berucap hanya untuk tak bermakna lebih baik tak usah. Diammu lebih baik, walau sepantasnya kamu berterimakasih. Diammu lebih indah, walau sebenarnya maaf yang seharusnya terlontar
Rasaku tidak seumur jagung, apa kamu masih tak percaya. Bagaimana lagi? Dengan caraku aku tak yakin lagi.Sepertinya kamu tidak pernah ingin tahu.
Haha. Tidak apa, aku masih bisa tersenyum saat kamu lewat. Berpura-pura untuk bahagia, itu yang aku lakukan sebenarnya . Berbicara bahwa aku bisa lupa segalanya, itu kebohongan besar. Kamu tidak tahu kan? Aku memang punya cara untuk bisa melakukan kebohongan yang ini.
Aku yakin kamu tak tahu, betapa seringnya aku bersembunyi untuk setetes air dari mata. Aku lebih-lebih tak yakin, kamu tahu beratnya rasa sakit saat aku terima lontaran caci. Mungkin, kamu malah akan menertawaiku dengan puas.
Tenang, sekarang aku sedang tertawa, jangan khawatir karena aku masih punya banyak persediaan kotak tertawa.  Maaf untuk terimakasihku.

Kado

Selamat !

Selamat ulang tahun, maksudku.
semoga penjang umur dan sehat selalu
semoga hidupmu akan selalu diwarnai
keindahan

cinta itu indah, namun belum
tentu semua cinta indah
maka warnai hidupmu dengan sesuatu
yang sudah pasti indah

dengan cinta yang indah
yaitu cinta bersama orang-orang
Terindah !

          Ucapan ini terpasang rapih.
Tentu dengan pilihkan kado yang terbaik. Untuk siapa? entah. mungkin kamu.

Ternyata



          Setiap aku bertemu, yang aku dapati hanya perasaan aneh, ingin menghindar, ingin berpaling. itu pun saat aku belum benar-benar didepanmu. Entah apa yang membuat aku malu berhadapan denganmu. Tapi aku pun ingin jujur, yang aku tau kamu pun selalu memberikan tatapan itu. Sayangnya aku juga tak bisa menafsirkan apa maksudmu. kalau kamu memang tak peduli, untuk apa kamu berpaling hanya untuk memastikan bahwa itu aku. Bukan hanya satu kali, diam-diam aku memergokimu sedang melihat ujung mataku.
          Ada isyarat yang ingin kamu berikan. Aku ingin bertanya. tapi, aku malah menjadi amat malu karea perasaan ingin tahuku. Dan ternyata kamu semakin ingin tahu tentangku. kamu menghampiriku, dan mulai berkata lewat mulut, bukan hanya lewat tatapan.
          Pertama kamu menyebut namamu, kamu bilang Andri. Aku balas dan kita saling tersenyum. sungguh hati ini menjadi amat aneh. Aku berada disampingmu saat ini, situasi yang sudah sangat aku tunggu - tunggu, kami tenggelam dalam suasana perkenalan yang lucu, bukan karena ada yang melucu. Tapi karena kami hanya saling diam. Seolah kami sedang berbicara lewat hati.
          laki-laki ini adalah dia yang sudah lama berada dalam tanda tanyaku. dan bisa ditebak, bagaimana prerasaanku sekarang, disaat aku bisa berada dalam tanda seruku. Saat aku masih ingin merasakan rasa bahagiaku. dia berbicara, dengan nada lembut, tidak memandangku, dia menyebut satu buah nama. Bertanya banyak tentang nama itu. Aku jawab dengan sangat lancar, karena aku memang tahu segalanya.
          Namun kini aku tak lagi tersenyum, aku menyadari semua keindahan ini ternyata tak nyata. bukan karena aku, dia sering melihatku dalam diam. tapi karena seorang perempuan yang selalu bersamaku. dan ini semua karena kamu ingin tahu tentang dia. Aku terlalu bodoh, berkhayal tak berujung. Untuk pertama kalinya aku lihat senyumnya yang tulus. Setelah aku berkata tak ada yang perlu kamu khawatirkan, dia tak lagi dimiliki.
          aku berjalan, menghindari dia menatapku dengan mata penuh linangan air.

Sabtu, 08 Maret 2014

Bintang hidup yang telah mati




                                                                                    
            Aku tak pernah menghiraukan, mungkin mereka bilang aku tak pantas sebagai seorang aktivis atau mungkin aku tak layak untuk terlihat sibuk. Di ruangan sebesar 3x3 m, aku hanya bersandar pada tembok yang mungkin catnya luntur dan persis dihadapanku pemandangan yang cukup mengenaskan, kertas-kertas yang tertumpuk tidak rapih, itu semua file-file penting yang tidak terurus. Dan akhirnya itu akan menjadi pekerjaanku, mereka bilang aku memang bertugas mengurusi file-file. Tapi untuk sekarang, aku tidak peduli, aku hanya memfokuskan diri untuk orang yang sedang berbicara, yaitu ketua ekstrakulikuler Pecinta alam SMA Nusantara.
            Ya, anak culun seperti aku dengan kacamata besar dan tebal yang menghalangi lentiknya bulumata, serta gigi yang terpaksa harus dipagar, karena sama sekali tidak rapih. Ditambah gaya rambut yang tidak pernah aku ganti, kepang satu. Itu karena aku tak sempat berpikir untuk merubah bekas kepang sebelum berangkat sekolah. Juga bentuk tubuhku yang tidak terlihat proporsional.Tapi dengan semua ini aku tak pernah peduli, buktinya aku masih bisa menjabat sebagai seorang sekretaris di pecinta alam, akupun masih bisa selalu mendapat pujian dari guru B.inggris, karena nilai UH ku yang selalu hampir sempurna. Aku dengan kekurangan dan kelebihanku, aku tak peduli orang lain.
 “Din, di proker tahunan, pendakian selanjutnya sekitar bulan apa?” tanya Bagus yang ternyata menyadari aku mulai melamun
“Eh..eeh itu Gus, bulan Desember, sekitar akhir atau pertengahan.” Jawabku sambil membuka-buka proker ditangan.
“oke teman-teman, akhir Desember kemungkinan akan ada libur akhir tahun, bagaimana kalau pendakian kita laksanakan bersamaan dengan liburan?” ucap Bagus, sambil memperhatikan kalender.
            Tak ada jawaban serentak, pertama karena memang tidak banyak yang ikut rapat dan yang kedua sepertinya mereka semua keberatan liburan akhir tahun mereka harus direlakan, termasuk aku.
“ aku usul, bagaimana kalau kita gunakan hari-hari setelah test semester saja? Sepertinya liburan akhir tahun kurang tepat Gus” Intan menambahkan
            Intan berhasil buat kami lega dengan saran tadi, Bagus jarang menolak saran Intan. Entah karena Intan selalu punya solusi tepat atau ada alasan lain. Ahh... aku tak peduli. Bagus kembali memperhatikan kalender, aku hanya berusaha menebak raut wajahnya, tentunya untuk menunggu kepastian, dengan alasan aku akan sangat lega apabila saran Intan diterima atau karena aku ingin cepat membuat kesimpulan di notulen, mungkin keduanya.
“sepertinya ini lebih baik, hmm... akupun sebenarnya punya acara lain di akhir tahun” Bagus memandangi kami, tersenyum dan mulai sedikit melawak. Sejenak, semua masih terdiam
“tak hanya kamu yang punya acara Gus” kami saling pandang
“hahaha” kami semua menyadari, sebenarnya tak ada yang setuju dengan pilihan pertama.
“ohh. Kalau begitu biarkan acara akhir tahun berjalan sesuai rencana, hahaha. Ada yang punya usul untuk tanggal pendakian?”Bagus kembali bertanya
            Herannya semua langsung terdiam, seolah-olah kami membiarkan Bagus yang menyelesaikan ini. Padahal sarannya yang pertama pun tidak kami setujui.
“oke lah, semoga saranku kali ini lebih baik. Tgl 8 Desember kita mulai test, kemungkinan tanggal 18 kita sudah selesai, Minggu selanjutnya untuk classmeeting dan persiapan pembagian raport, bagaimana kalau tanggal 27 dan 28 Desember. Hari jum’at dan sabtu?” Bagus memasang muka serius, yang menurutku tetap saja lucu.
            Aku tak perlu menunggu jawaban dari teman-teman, aku yakin semua akan setuju dan semuanya sudah aku tulis sebagai kesimpulan notulen.
“sebentar Gus, tangaal 27 dan 28 kita sudah mulai libur, kita pakai hari-hari mendekati pembagian raport saja, di hari minggu dan senin. Tanggal 22 dan 23 Desember. bagaimana?”
            Dan, ternyata aku salah,  Irfan sudah  mulai bicara. Dia anak perfectly kedua setelah Intan, mungkin mereka jodoh. Ahh... tak urusan.  Sedikit kesal memang harus mengganti ulang halaman notulen, tapi apa boleh buat sepertinya teman-teman lebih setuju dengan saran Irfan.
“Irfan, buat ku ribet !” gumamku kesal
“iya benar tuh Gus, itu waktu yang tepat.” Intan memambahkan
            Okelah, Intanpun sudah berbicara, aku tak punya lagi pegangan untuk memepertahankan halaman notulen ini.
“dan kepastian diambil. Pendakian tanggal 22 dan 23 Desember” ucapku sembari menutup notulen hari ini tanggal 28 November 2013.

                                                                        ***

          Mendekati hari pendakian banyak yang harus aku kerjakan. Membuat proposal, surat pemberitahuan, permohonan izin, undangan, sampai daftar anak-anak yang akan ikut pendakian . jelas, itu semua tidak bisa aku lakukan hanya dalam waktu 1 minggu. Tapi, aku juga tak mungkin menyibukkan diri ditengah test semester. Paling tidak aku harus menyelesaikan proposal terlebih dulu.
“Din, ??!” teriak Intan dari koridor atas
Aku yang baru saja dari kantin langsung menoleh kearah Intan “ iyaa. Ntan? Ada apa?”
“cepat ke atas, aku mau ngomong”
“ya tunggu, aku kesitu Ntan” aku segera menaiki tangga, jarang sekali aku ke koridor atas, memang tak pernah punya urusan ditempat ini. Setelah sampai dikoridor aku langsung berbelok ke kiri dan melihat Intan bersama Irfan. Yah... diantara 2 orang idealis memang cukup sulit, tapi aku tak peduli.
“ada apa Ntan?” sapaku sambil duduk diantara  mereka
“kamu hari ini bawa proposal pendakian? Nanti aku sama Irfan temenin kamu ke kepsek buat ngajuin proposal”  tanya Intan
“astaga! Intan !!” aku berteriak
“kenapa? Kamu gak bawa proposalnya?”tanya Irfan
“iya, gimana ya?” aku juga gak bawa flashdisk yang ada soft copy proposal” aku mulai panik
“sebentar, waktu kemarin di ruang PA. Kayanya kamu sempet pake flashdisknya Irfan ya?” Intan yang tidak kalah paniknya mulai mencari solusi.
“iya.. iya benar. Kamu bawa flashdisknya gak fan?”tanyaku mulai gugup
“Bawa sih, tapi aku lupa proposalnya disimpen dimana.” Irfan langsung mengeluarkan flashdisknya dari saku.
            Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil flashdisk itu dari tangan Irfan dan langsung menuju koperasi.
“dodol banget sih kamu Din, besok udah test kamu belum ngajuin proposal lebih-lebih proposal itu belum kamu print! OON!!” umpat aku dalam hati
            Untung aja, koperasi lagi sepi dibalik kesulitan selalu ada kemudahan, aku berusaha menghibur diri. Tapi di balik itu semua tidak ada kemudahan selanjutnya, di flashdisk Irfan terlalu banyak folder, dengan terpaksa aku harus mencari proposal di berbagai kemungkinan. Dan ditengah pencarianku, dan entah kemungkinan yang keberapa aku menemukan satu buah folder dengan salah satu filenya adalah sebuah tulisan grafity, dan tulisan itu adalah sebuah nama”hardini laras” ya, itu namakau.
“benarkan ini namaku?” aku terheran heran sendiri
            Dan aku kembali teringat  dengan nansib proposal. Kali ini rasa panikku mengalahkan rasa penasaranku. Aku langsung menutup folder tadi dan kembali mencari softcopy proposal. dan ternyata proposal itu tidak terlalu jauh dari folder tadi.
“akhirnya, proposal udah ditangan” aku memandangi proposal yang sudah selesai aku jilid
“kok lama Din...?” tiba-tiba Irfan udah ada dibelakangku
“eehh.. iya. Foldermu kebanyakan sih, jadi tadi aku harus cari-cari dulu” aku yang teringat tentang folder tadi jadi merasa aneh untuk menjawab pertanyaan Irfan. Banyak pertanyaan yang muncul diotakku, tapi aku gak berani buat mempertanyakannya pada Irfan.
“ Din, ayo. Kita ke kepsek” ajak Intan tidak sabar
“ya, ayo ayo.”aku menggandeng Intan sambil memegang proposal ditangan
            Suasana disekolah ramai dengan anak-anak yang kluyuran, tapi sepi dari sosok guru. Sekarang semua guru sedang mengikuti rapat, dan kebanykan kelas kosong. Makanya aku punya banyak waktu untuk berada di luar kelas, termasuk untuk mengajukan proposal. Dan sekarang aku benar-benar teringat . kepala sekolah gak mungkin ada di ruangan!
“eeits!  Bentar. Semua guru kan lagi pada rapat, dan gak mungkin kepala sekolah ada di ruangannya, trus kita mau ketemu sama dispenser di ruang kepsek gitu?” aku memberhentikan Irfan dan Intan
“hahaha, korban kepanikan nih, itu tuh irfan pengen liat monitor CCTV kali. Mau liatin gebetan “ ledek Intan sambil melirik Irfan
“apaan sih Ntan, “ Ifan berusaha staycool, walau dengan muka yang maikn merah
“ hehe, Irfan Irfan. Ya udah duduk di depan MM aja yuh, sambili mempelajari proposal, siapa tau ada yang salah” ajak aku sambil menunjuk tempat duduk yang kosong.
            Mereka berdua langsung mengikutiku tanpa ada penolakan, di menit pertama masih biasa saja berada diantara mereka, 5 menit berlanjut. Perasaaan minderpun muncul. Itu juga karena pandangan teman-teman ke kami bertiga yang kebanyakan bisa ditebak, ngapain anak culun sepertiku gabung sama 2 orang itu, ngerendahin diri sendiri aja! Mungkin itu yang mereka pikir. Ya, aku memamng menyadari, aku terlalu berbeda dengan mereka berdua, tapi aku masih belum perduli dengan semuanya.
“Ntan, menurutmu tujuan diproposal ini sesuai gak?” tanyaku mengisi kekosongan
“coba tanya Irfan, Din. Dia lebih tau kayanya”jawab Intan
“ohh.hm Fan, ini gimana menurutmu?” aku menyodorkan proposal ke Irfan
“ sebentar, “ Irfan langsung mengambil proposal ditanganku dan membicarakan semuanya dengan Intan
            Entah, apa yang mereka bicarakan, sebenernya sesuai atau tidak dengan apa yang aku tanyakan. Disini, aku mulai merasa di acuhkan.
“huuhh !!” aku mulai kesal
            Ditengah kekesalanku, ada beberapa adik kelas yang terus memperhatikan kami bertiga, tersenyum senyum dan saling berbisik. Tepat didepan kami mereka berhenti
“ ka jangan ganggu orang pacaran, pemandangannnya jadi gak enak !” ucap salah satu dari mereka. Seolah – olah mereka terganggu karena film yang ditontonnya berfiguran sangat jelek.
“ kalian gak punya hati banget ya? Aku memamng jelek, tapi aku masih pantas punya kesibukan yang sama dengan orang-orang seperti mereka! “ aku berdiri sambil, meninggalkan mereka semua.
            Sungguh, kata-kata tadi buat aku benar-benar menjadi seekor semut kecil yang siap untuk di tindas. Aku berlari, meninggalkan mereka, aku tidak memeperdulikan Intan dan Irfan lagi. Aku tidak mau berada di dekat mereka, agar oarang lain puas tidak terganggu dengan ketidakpantasanku. Aku berhenti di taman belakang, duduk dan mulai menangis
“aku tahu aku jelek, aku culun. Tapi aku juga punya hati, dan hatiku tidak culun. Aku tahu mana yang pujian dan mana yang hinaan. Dan aku tau mana yang baik dan mana yang tidah baik,”
“aku cewek yang penuh dengan kekurangan, aku memamng gak pantes bersanding dengan orang-orang perfectly. Apapun alasannya.” Aku menangis sejadi-jadinya. Membenamkan semua wajahku di telapak tangan.


                                                                                    ***

             Hari ini aku disibukkan untuk menyiapkan perlengkapan pendakian, dari jaket,sleepingbed, matras, mantel, kompas dll. Tidak semua aku punya, ada beberapa barang yang harus aku pinjam. Tapi tepat jam 11.00 semua sudah lengkap. Jam keberangkatan tertulis pukul 14.00. dan aku akan kembali kesekolah sekitar pukul 13.30
“ aku bisa tanpa orang orang seperti mereka !” aku kembali teringat kejadian waktu itu,
            Pukul 14.00 semua seudah berkumpul, dan siap menaikkan barang-barang ke atas truk.
“ perlu bantuan Din?” tanya Irfan bersiap mengambil ranselku
“gak  fan, makasih” aku langsung menaikkan ranselku sendiri ke atas truk, dan langsung meninggalkan Irfan
            Semua anak-anak menaiki truk, setelah melaksankan pendataan dan berdoa bersama. Aku lebih memlih menaiki truk paling terakhir dari pada harus berlama-lama berhadapan dengan Irfan. Aku heran, bukan hanya Irfan yang seharusnya aku hindari, tapi kenyataannnya aku lebih benci dia. Pemandangan selama perjalanan cukup buat aku melupakan sejenak masalahku selama ini. Hamparan sawah yang membentang luas dengan pemandanagan langit yang biru ditambah samar-samar pucuk gunung semeru. Kami berhenti di pos pertama. Semua ada 5 pos, dan ini awal dari perjalanan yang  kita tunggu-tunggu.
            Kita memilih rute baru dengan, melewati hamparan padang lavender yang indah berwarna ungu, kita harus melewati hektaran padang lavender yang mempesona. Menaiki puncak gunung semeru dan terbalaskan dengan keindahan rute yang kita pilih ini.
“ Din,?” panggil Irfan mencoba menahanku
“ apa?” jawabku santai
“ kamu masih marah sama aku?”
“marah untuk apa? Sudahlah, fokus untuk pucuk semeru. Tak usah bicarakan yang lain” aku langsung berlalu meninggalkan Irfan
            Kita sudah berda di pos 4 saat hari sudah mulai petang, dan kami semua memutuskan untuk berhenti dipos ini. Kami semua sudah memasang bivak untuk kami berteduh. Setelah itu kami mencari perlengkapan untuk bermalam lebihh tepatnya kami mencari kayu bakar untuk membuat api unggun. Api unggun dimalam pendakian, itu sudah tradisi kami.
“siapa yang bawa gitar?” Bagus mulai beraksi
“ aku Gus, itu aku taruh di pos” sony menunjuk pos
“biarkan aku yang bermain gitar Gus,” Irfan meminta gitar dari tangan Bagus
“ ambil sendiri dong, udah diambil aja mau luh !”
Bintang malam katakan padanya
Aku ingin melukis sinarmu dihatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
“ahh, galau lagunya!” sony, mulai mengambil alih
Masih kuingat selalu saat kau berjanji padaku
 takkan pernah ada cinta yang lainnya
 tersasa begitu indah
             aku yang sudah mulai bosan, lebih memilih sendiri. Melihat bintang yang bertebaran. Ya, aku suka bintang. Aku suka karena bintang punya sinarnya sendiri. Bintang sebenranya selalu bersinar, tapi saat siang cahayanya tak mampu mengalahkan sang surya, tp saat malam, tak ada yang bisa mengalahkan indahnya bintang. Jadi, seredup apapun bintang dia tetap mempunyai cahaya, bahakn ada bintang yang paling terang itu karena ada bintang yang lebih redup.
“ kamu lihat bintang itu din, dia begitu terang, tapi aku lebih suka yang itu, yang kebih redup”  Irfan menunjuk salah satu bintang
“sejak kapan kamu disini fan?” tanyaku yang kaget dengan kedatangan Irfan
“sejak kamu memisahkan diri dari kami. “
“ trus untuk apa kamu disini?”
“ aku ingin melihat bintang,”
“ disanapun kamu bisa melihat bintang, kamu tak perlu kemari”
“ biarkan aku menjelaskan satu hal, Din” Irfan mulai memohon
“okeh, bicaralah. Akan aku dengarkan”
“ maafkan, bintang yang terang itu, dia punya maksud lain buat bintang yang lebih redup. Dia bukan merendahkan bintang itu, tapi bintang yang terang sesungguhnya ingin berbagi sinarnya.”
“ apa maksudmu?”
“ aku memang sengaja, buat kaum minder Din, tapi tujuanku agar kamu tau. Kamu pantas sepertiku. Aku ingin kamu termotivasi. Tapi ternyata, kamu salah menangkap ini semua.”
“lalu, untuk apa kamu peduliin aku?”
“ kamu bisa pikir sendiri, Din, aku berpesan sama kamu. Temani bintang yang lain, karena bintang yang paling terang akan pergi. Buat bintang yang paling redup itu menjadi yang  paling terang” tunjuk Irfan pada salah satu bintang
“ aku sayang kamu” Irfan lansung pergi meninggalkanku yang masih terdiam
             Aku masih belum bisa menyimpulkan semuanya, tiba-tiba dia berbicara seperti itu. Aku bingung apa yang harus aku katakan.
“ bintang, tetap temani aku disini, bisikkan apa maksudnya” mukaku menengadah kelangit
             

                                                                        ***

               Malam pendakian yang cukup membingungkan. Setelah malam itu Irfan selalu menghindar, sebenarnya banyak hal yang ingin aku bicarakan ulang. Ahh, tapi aku simpulkan saja, Irfan semalam hanya bermimpi, dia tidak sadar dengan apa yang dia bicarakan. Semoga saja, karena aku tak mau terlalu bingung memikirkan apakah semalam nyata atau tidak. Rasa capek setelah pendakian masih aku rasakan, walau aku sekarang sudah berada di kamar kesayangkanu.
KRING KRIINGG
“hallo?” sapaku diujung telpon
“ din? Ini Intan. Aku mau ngabarin, “
“ ngabarin apa?”
“Irfan Din, diperjalanan pulang dia mengalami kecelakaan. Tolong kamu datang ke rumah sakit sekarang “
“haa? Kamu gak bercanda Ntan?” aku yang masih terkaget sekaligus bingung, hanya mampu bangkit dari tempat tidur dan mengenang malam pendakian
               Dan tidak terasa air mata menetes ke pipiku. “Irfan ! “ aku menangis mengingat apa yang Irfan katakan. aku yakin kamu pantas jadi bintang paling terang di hatiku Fan. Aku langsung mengambil tas kecilku dan menuju rumah sakit.
“Intan, Irfan dimana?” aku langsung menemui Intan di koridor rumah sakit
“ dia udah gak ada Din, dia udah dibawa ke ruangan itu” Intan menunjuk sebuah ruangan
              Kakiku langsung terasa lemas, aku tidak mampu berdiri dan menopang badanku sendiri.
“ kamu pasti sudah tau din, dia sebenernya sayang sama kamu. Dia ingin kamu merasa terang seperti bintang ini” Intan memeberikan glowing berbentuk bintang.
 Aku langsung mengambil glowing bintang itu. Dan menangis di pelukan Intan,
“ aku memang telat untuk menyadari semuanya Ntan,”

                                                                                                                                                                                                            TAMAT