Memang ini caraku, Setiap katamu
tak pernah hilang, setiap peristiwa selalu termemori. Ya memang berlebihan,
tapi itu caraku. Sepertinya kamu memang bukan untukku. Kamu tak punya satu
cara yang sama. Kamu tak punya penafsiran yang sama.
Tapi, apa memang caramu seperti
itu? Harus seperti itu?! Aku tak pernah melarangmu tak berucap didepanku, walau
yang aku inginkan sebaliknya. Tapi kalau kamu berucap hanya untuk tak bermakna
lebih baik tak usah. Diammu lebih baik, walau sepantasnya kamu berterimakasih. Diammu
lebih indah, walau sebenarnya maaf yang seharusnya terlontar
Rasaku tidak seumur jagung, apa
kamu masih tak percaya. Bagaimana lagi? Dengan caraku aku tak yakin lagi.Sepertinya kamu tidak pernah ingin tahu.
Haha. Tidak apa, aku masih bisa
tersenyum saat kamu lewat. Berpura-pura untuk bahagia, itu yang aku lakukan
sebenarnya . Berbicara bahwa aku bisa lupa segalanya, itu kebohongan besar.
Kamu tidak tahu kan? Aku memang punya cara untuk bisa melakukan kebohongan yang ini.
Aku yakin kamu tak tahu,
betapa seringnya aku bersembunyi untuk setetes air dari mata. Aku lebih-lebih
tak yakin, kamu tahu beratnya rasa sakit saat aku terima lontaran caci.
Mungkin, kamu malah akan menertawaiku dengan puas.
Tenang, sekarang aku sedang
tertawa, jangan khawatir karena aku masih punya banyak persediaan kotak
tertawa. Maaf untuk terimakasihku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar