Jumat, 04 Juli 2014

Half alive


Aku membuntutinya dari belakang, memasuki gang kecil. Dan berhenti didepan rumah yang lumayan besar. Aku yakin ini bukan rumahnya, karena ini daerah Kota. Sedangkan rumahnya ada di daerah kecil bagian kota. Aku memasuki rumah itu, dan disambut seorang wanita. Sedikit mirip ibunya. Padahal aku belum pernah bertemu langsung dengan ibunya.
“ini rumah bulekku dek” dia berkata
“ooh”
Aku sudah mengeluarkan laptop, entah dimana aku menyimpannya tadi. Dan tiba-tiba sudah ada didepanku. Dan ternyata akupun sedang mengopy sebuah file. Ohh itu sebuah film. Pertemuan pertama ini sangat garing, tak ada  canda tawa. Dan itu yang membuatku ingin cepat-cepat mengakhirinya.
“huuh belum selesai. Apa kapasitasnya besar sekali” aku menengok progress copying
“ya tunggu saja”
“nak, kalian berdua cocok ya” ucap buleknya sambil menghampiri kami
Hahh?! Sepintas raut mukaku berubah. mungkin memerah, dan sikapku menjadi amat grasah-grusuh.
“ ehhh, tante. Engga ah tante” aku menanggapi
Aku kesal dengan dia yang hanya terenyum, tak ada ekspresi selain itu apa?!
“tante tinggal dulu ya” tersenyum kepada kami dan melangkah ke luar
Sepertinya aku tidak sepenuhnya kesal, buktinya aku sedikit tersenyum juga atas omongan tante barusan. Hehe
“kita makan yuk, tapi diluar aja” ajak dia yang sudah langsung berdiri
“kemana? “
“udah ikut aja”
Aku dibawa kesebuah rumah yang tidak terlalu besar dan rumah ini masih semi permanen. Dari rumah itu keluar seorang laki-laki paruh baya. Dia mengeluarkan sebuah motor yang nantinya akan membawa kita berdua. Dan ternyata, bukan hanya kami berdua. Ada seorang perempuan seusiaku yang akan ikut. Mungkin itu anak dari bapak itu, aku lupa untuk bertanya. Akupun baru sadar, aku tidak tahu siapa bapak-bapak tadi.
                Kami berempat, para laki-laki dan perempuan dewasa, menaiki satu buah motor ? herannya akupun tak merasa kesempitan. Ada apa ini? Dan siapa sih mereka? Sekarang aku tak yakin dengan tujuan awal untuk mencari makan. Entah aku pergi bersama mereka sampai kapan dan sampai mana. Sehingga aku terbangun, yaa terbangun dari mimpi ini !
 “ahhhh.. dua kali aku memimpikan dia” aku menerawang
Dasar mimpi yang aneh, tapi memang kenyataannya pertemuan pertama memang belum pernah kami lakukan. Dia memang kakak kelasku dulu. tapi aku yakin dia tidak mengenalku,
Sepertinya aku sekarang akan mengeluarkan air mata, mengingat semua yang menjadi mimpiku adalah tetap akan menjadi sebuah mimpi.  Bahkan pertemuan itu mungkin mimpi. Aku langsung mengambil air mineral dari tasku, berharap bisa menenangkan pikiran. Tapi, ternyata mimpi ini membuat aku mengingat semuanya. Aku mengeluarkan laptopku dan menuliskan semuanya. Berharap suatu saat dia bisa paham karena membaca tulisan ini.
Dulu, saat aku masih menjadi adik kelasmu. Mungkin beberapa kali aku berharap perempuan yang selalu disampingmu adalah aku. Aku sangat tertarik dengan mukamu yang lucu saat kedua garis tawamu terlihat.
Namun, kesempatan itu datang begitu lama, dan harapan itu sudah sangat lama aku hilangkan, tapi sekarang aku melihat ada sedikit celah .Mungkin hanya celah yang tidak terlalu aku harapkan pula.
Aku ingat pertama kali kamu menegurku lewat ponsel, saat itu kamu memang datang disaat yang tepat. Mungkin awal yang sedikit indah. Dan aku masih berharap ada hal indah lagi yang akan datang,
Dan benar saja, Banyak hal yang menurutku sangat indah walaupun sebenarnya itu sangat wajar. Bodohnya aku benar-benar percaya bahwa ini hal yang indah !
 sekarang aku harus bertanya !
Apa tujuan utamamu menegurku pertama kali saat itu?
Sebentar ,aku akan membantumu mengingat semuanya. “Dari awal kamu sudah berucap bahwa aku harus percaya kamu tidak akan berbuat jahat. Dan ternyata pembicaraanmu dulu selalu terkait dengan semua itu. Jadi aku bisa simpulkan, bahwa semua sudah sangat teratur.”
Lalu, apa kamu ingat. Kamu pernah berkata aku tak pantas untuk ikut bersamamu karena aku rusuh?!
Aku sangat senang, aku tak kesal. Itu yang perlu kamu tahu. Tapi aku bingung mana yang harus aku percayai, kata-katamu ini atau point diatas tadi?!  Atau kamu hanya bercanda mengatakan ini? Maksudku, kata-kata ini juga sudah diatur olehmu?!
Aku kembali mengingat semuanya, kadang aku butuh penjelasan. Tapi aku yakin, kamu pun bingung apa yang harus dijelaskan. Untung saja rasaku ini belum begitu bulat, sehingga aku masih bisa pergi semudah ini. Tapi…
“Kak, aku masih sempat menerawang langit untuk menengadah air yang siap jatuh dari ujung mata, ketika kata-kata itu muncul dilayar handphoneku. Aku mungkin tak berkata aku ini sedih, tapi mungkin aku bisa berkata aku ini adalah orang yang sensitif.”
 Aku menoleh kearah jendela, ternyata sore ini hujan mengantarku meninggalkan jejak kepergian. Dan meninggalkan kisah bahwa kakak masih sempat memberikan tatapan kesedihan bahwa aku tak bisa lagi untuk digapai.
Aku menutup layar laptop dan kembali meneruskan tidurku, sebelum aku tersadar bahwa ini juga serangkaian mimpi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar