Aku membuntutinya dari belakang,
memasuki gang kecil. Dan berhenti didepan rumah yang lumayan besar. Aku yakin
ini bukan rumahnya, karena ini daerah Kota. Sedangkan rumahnya ada di daerah
kecil bagian kota. Aku memasuki rumah itu, dan disambut seorang wanita. Sedikit
mirip ibunya. Padahal aku belum pernah bertemu langsung dengan ibunya.
“ini rumah bulekku dek” dia berkata
“ooh”
Aku sudah mengeluarkan laptop, entah dimana aku menyimpannya
tadi. Dan tiba-tiba sudah ada didepanku. Dan ternyata akupun sedang mengopy
sebuah file. Ohh itu sebuah film. Pertemuan pertama ini sangat garing, tak
ada canda tawa. Dan itu yang membuatku
ingin cepat-cepat mengakhirinya.
“huuh belum selesai. Apa kapasitasnya besar sekali” aku
menengok progress copying
“ya tunggu saja”
“nak, kalian berdua cocok ya” ucap buleknya sambil
menghampiri kami
Hahh?! Sepintas raut mukaku berubah. mungkin memerah, dan
sikapku menjadi amat grasah-grusuh.
“ ehhh, tante. Engga ah tante” aku menanggapi
Aku kesal dengan dia yang hanya terenyum, tak ada ekspresi
selain itu apa?!
“tante tinggal dulu ya” tersenyum kepada kami dan melangkah
ke luar
Sepertinya aku tidak sepenuhnya kesal, buktinya aku sedikit
tersenyum juga atas omongan tante barusan. Hehe
“kita makan yuk, tapi diluar aja” ajak dia yang sudah
langsung berdiri
“kemana? “
“udah ikut aja”
Aku dibawa kesebuah rumah yang tidak
terlalu besar dan rumah ini masih semi permanen. Dari rumah itu keluar seorang
laki-laki paruh baya. Dia mengeluarkan sebuah motor yang nantinya akan membawa kita
berdua. Dan ternyata, bukan hanya kami berdua. Ada seorang perempuan seusiaku
yang akan ikut. Mungkin itu anak dari bapak itu, aku lupa untuk bertanya. Akupun
baru sadar, aku tidak tahu siapa bapak-bapak tadi.
Kami
berempat, para laki-laki dan perempuan dewasa, menaiki satu buah motor ?
herannya akupun tak merasa kesempitan. Ada apa ini? Dan siapa sih mereka? Sekarang
aku tak yakin dengan tujuan awal untuk mencari makan. Entah aku pergi bersama
mereka sampai kapan dan sampai mana. Sehingga aku terbangun, yaa terbangun dari
mimpi ini !
“ahhhh.. dua kali aku
memimpikan dia” aku menerawang
Dasar mimpi yang aneh, tapi memang kenyataannya pertemuan
pertama memang belum pernah kami lakukan. Dia memang kakak kelasku dulu. tapi
aku yakin dia tidak mengenalku,
Sepertinya aku sekarang akan
mengeluarkan air mata, mengingat semua yang menjadi mimpiku adalah tetap akan
menjadi sebuah mimpi. Bahkan pertemuan
itu mungkin mimpi. Aku langsung mengambil air mineral dari tasku, berharap bisa
menenangkan pikiran. Tapi, ternyata mimpi ini membuat aku mengingat semuanya. Aku
mengeluarkan laptopku dan menuliskan semuanya. Berharap suatu saat dia bisa
paham karena membaca tulisan ini.
Dulu, saat aku masih
menjadi adik kelasmu. Mungkin beberapa kali aku berharap perempuan yang selalu
disampingmu adalah aku. Aku sangat tertarik dengan mukamu yang lucu saat kedua
garis tawamu terlihat.
Namun, kesempatan itu
datang begitu lama, dan harapan itu sudah sangat lama aku hilangkan, tapi
sekarang aku melihat ada sedikit celah .Mungkin hanya celah yang tidak terlalu
aku harapkan pula.
Aku ingat pertama kali
kamu menegurku lewat ponsel, saat itu kamu memang datang disaat yang tepat.
Mungkin awal yang sedikit indah. Dan aku masih berharap ada hal indah lagi yang
akan datang,
Dan benar saja, Banyak
hal yang menurutku sangat indah walaupun sebenarnya itu sangat wajar. Bodohnya
aku benar-benar percaya bahwa ini hal yang indah !
sekarang aku harus bertanya !
Apa tujuan utamamu
menegurku pertama kali saat itu?
Sebentar ,aku akan
membantumu mengingat semuanya. “Dari awal kamu sudah berucap bahwa aku harus
percaya kamu tidak akan berbuat jahat. Dan ternyata pembicaraanmu dulu selalu
terkait dengan semua itu. Jadi aku bisa simpulkan, bahwa semua sudah sangat teratur.”
Lalu, apa kamu ingat.
Kamu pernah berkata aku tak pantas untuk ikut bersamamu karena aku rusuh?!
Aku sangat senang, aku
tak kesal. Itu yang perlu kamu tahu. Tapi aku bingung mana yang harus aku
percayai, kata-katamu ini atau point diatas tadi?! Atau kamu hanya bercanda mengatakan ini?
Maksudku, kata-kata ini juga sudah diatur olehmu?!
Aku kembali mengingat semuanya, kadang aku butuh penjelasan.
Tapi aku yakin, kamu pun bingung apa yang harus dijelaskan. Untung saja rasaku
ini belum begitu bulat, sehingga aku masih bisa pergi semudah ini. Tapi…
“Kak, aku masih sempat menerawang langit untuk menengadah
air yang siap jatuh dari ujung mata, ketika kata-kata itu muncul dilayar
handphoneku. Aku mungkin tak berkata aku ini sedih, tapi mungkin aku bisa
berkata aku ini adalah orang yang sensitif.”
Aku menoleh kearah
jendela, ternyata sore ini hujan mengantarku meninggalkan jejak kepergian. Dan
meninggalkan kisah bahwa kakak masih sempat memberikan tatapan kesedihan bahwa
aku tak bisa lagi untuk digapai.
Aku menutup layar laptop dan kembali
meneruskan tidurku, sebelum aku tersadar bahwa ini juga serangkaian mimpi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar